Saksi Hidup Tsunami Pangandaran 2006

Saksi Hidup Tsunami Pangandaran 2006

Salah satu saksi guru SDN 6 Pangandaran tentang tusnami Pangandaran 2006.

Pada hari Sabtu lalu (3/8), SDN 6 Pangandaran menjadi salah satu titik yang disambangi oleh tim EDT (Ekspedisi Desa Tangguh Bencana Tsunami) 2019. Ada lebih dari 50 siswa dan siswi kelas 4-6 SDN 6 Pangandaran yang mengikuti edukasi tanggap bencana bersama dengan Teh Cici dari BNPB.

Teh Cici memberikan edukasi tanggap bencana pada siswa dan siswi SDN 6 Pangandaran

Dengan rasa antusiasnya, para siswa dan siswi ini menyanyikan lagu gempa dan belajar prosedur drop, hold, dan cover dalam kesiapsiagaan gempabumi. “Kita harus menjadi penolong untuk diri kita sendiri dari lingkungan kita,” ujar Teh Cici dengan semangat kepada siswa dan siswi SDN 6 Pangandaran yang berada di lokasi.

Ternyata nih Disasterizen, antusiasme anak-anak ini juga disambut baik oleh negara, para relawan, hingga para penggiat kebencanaan mancanegara, lho. Hal ini disampaikan oleh Aas Hasanah, guru kelas 1 yang juga merupakan saksi hidup dari kejadian tsunami pada 2006 silam.

Sering, dulu sempat ada dari ADRA, dari luar negeri. Terus ada dari BPBD, Tagana, PMI. Sering dikasih pengarahan, pelatihan, dan simulasi,” ujar Aas.

Selain itu pula, para guru juga bercerita tentang tsunami pada 2006 silam secara kronologisnya, jumlah korban dari warga sekolah dan respon sekolah terhadap kejadian tersebut.

Baca juga : MENGERIKAN, DIBALIK LAGU SERAT SRINATA

Waktu itu, saya sedang menyapu pakai daster. Waktu menyapu, tiba-tiba saja ada gempa. Anak saya sedang mengaji di daerah pasar ikan di dekat pantai. Ada suara gemuruh besar seperti kapal mau datang, padahal mah itu tsunami. Saya langsung lari dan menjemput anak saya. Waktu itu usianya 6 tahun. Saya seret dan saya bawa naik motor untuk evakuasi,” cerita Aas yang pada waktu itu sudah menjadi guru di sekolah ini.   

Disasterizen, selain Aas ini ada juga lho guru lain yang menjadi saksi hidup tsunami yang terjadi pada 2006 silam, yaitu Ika Sartika, guru kelas 2 di SD yang sama dengan Aas. “Benar-benar trauma. Dulu sering terjadi gempa, Cuma sering santai aja yang penting keluar ruangan. Setelah tsunami, saya benar-benar trauma,” ujar Ika.

Sekolah ini terletak di Jalan Katapang Doyong No.33, Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Meskipun sekolah berada di sekitar lebih dari 150 meter dari bibir pantai, tidak ada kerusakan yang signifikan yang terjadi setelah tsunami yang menerjang di tahun 2006 lalu. Alhamdulillah! Hanya ada sedikit air yang masuk menggenangi sekolah.

Nah, kalau udah begini mengajarkan kesiapsiagaan bencana sejak dini kepada anak-anak itu sangat penting Disasterizen. Agar mereka mengerti harus melakukan apa saat ancaman datang kepada mereka. (MA)

Sumber : Rafly Gilang Pratama (Tim Ekspedisi Desa Tangguh Bencana)

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar