Gempa yang Melanda Ternate Tadi Malam

Gempa yang Melanda Ternate Tadi Malam

Ilustrasi gempabumi. Sumber: Kompas.com

Gempa lagi-lagi melanda Indonesia! Semalam pada Minggu, 7 Juli 2019 telah terjadi gempa dengan berkekuatan M 7,0 di Ternate, Maluku Utara. Gempa ini berada pada 0,53 LU dan 126,17 derajat BT atau yang berlokasi di dasar laut kedalaman 49 km. Pusat gempanya berada di 133 km arah barat Ternate, Maluku Utara.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya deformasi batuan dalam Lempeng Laut Maluku," ungkap Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono.

"Gempa ini memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) akibat adanya tekanan/kompresi lempeng mikro Halmahera ke arah barat, dan tekanan lempeng mikro Sangihe ke arah timur," sambungnya.

Daryono juga menambahkan kalau akibat tekanan tersebut, Lempeng Laut Maluku terjepit dan terkompresi hingga memicu adanya patahan di bawah Punggungan Mayu (Mayu Ridge).

"Berdasarkan laporan masyarakat menunjukkan bahwa guncangan dirasakan di Bitung dan Manado dengan intensitas IV-V MMI (dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun), dan di Ternate III-IV MMI (dirasakan oleh orang banyak dalam rumah), Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut," tambah Daryono.

Gempa ini menyebabkan air laut di Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, naik hingga 50 cm pasca gempa di Ternate, Maluku Utara malam itu.

Ini diungkapkan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sitrao Bob Wuaten dalam pesan singkatnya “Siau terpantau tidak ada kenaikan tinggi air laut. Tapi, Tagulandang terjadi kenaikan air laut. Pantauan di Buhias, ada kenaikan air laut 30-50 cm” katanya.

Hasil pemodelan BMKG semalam, gempa bumi ini berpotensi tsunami dengan status ancaman “waspada” untuk wilayah Minahasa Selatan dan Minahasa Utara bagian Selatan.  Berdasarkan pemodelan tersebut, BMKG sempat mengeluarkan peringatan adanya potensi tsunami. Selanjutnya, BMKG melakukan monitoring perubahan muka air laut pada 6 stasiun tide gauge di Bitung, Tobelo, Ternate, Taliabu, Jailolo, dan Sanana selama kurang lebih 2 jam.

Lama waktu monitoring ini sesuai dengan standard operational procedure (SOP) yang berlaku. Setelah dilakukan monitoring selama 2 jam, BMKG tidak menemukan adanya anomali muka laut. "Maka peringatan dini tsunami diakhiri pada pukul 00.09 WIB tanggal 8 Juli 2019," tutur Daryono.

"Hingga pukul 00.54 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 19 aktivitas gempabumi susulan (aftershock)," imbuhnya. Pria asal Semarang itu menambahkan, sehubungan dengan Peringatan dini tsunami telah dinyatakan berakhir maka bagi daerah yang mendapatkan peringatan dini tersebut dapat kembali ke rumah masing-masing. "Selanjutnya tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya," tegasnya.

Nah, jadi harus tetap siaga dan jangan berpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan ya Disasterizen! Stay safety!

Sumber : Kompas.com

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar