Aksi Nyata Pemulung Sampah Gaul

Aksi Nyata Pemulung Sampah Gaul

Kegiatan para anggota Pemulung Sampah Gaul. Sumber : Mongabay.com

Saat ini sudah banyak sekali di dunia mengenai aksi pengurangan limbah sampah, ya Sobat Disasterizen? Salah satu aksi nyatanya adalah dibentuknya komunitas Pemulung Sampah Gaul (PSG). PSG tidak hanya memilah dan mendaur ulang sampah, mereka juga membuat gerakan mengurangi penggunaan sampah plastik.

Namun, apa sih Pemulung Sampah Gaul ini?

Awal mula lahirnya PSG adalah tak lepas dari acara Environmental Teacher’s International Convention (ETIC) pada Maret 2008 di Kaliandra, Pasuruan, Jawa Timur. Musthafa, pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Karang Jati dan menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA 3 Annuqayah terinspirasi dari acara tersebut dan melakukan hal serupa. Hingga akhirnya ada aksi mulung sampah pada 22 April 2008 di tempat pembuangan akhir (TPA).

Nama PSG sendiri juga lahir dari tidak ketidaksengajaan. Ummul Karimah, Ketua pertama PSG, mengatakan “Sebenarnya, nama itu dari ketidaksengajaan salah satu siswa yang pengumuman. Bilang pemulung sampah, karena ‘bilang pemulung’ sampah diketawain, lalu terlintas kata gaul. Sejak itu, ada pemulung sampah gaul”.

Baca juga : “KULKUL” EARLY WARNING SYSTEM MASYARAKAT BALI

Tantangan PSG

Setiap perjalanan memang tidak selamanya mulus, begitupun juga dengan PSG. Banyak tantangan yang dihadapi oleh PSG, seperti sikap sinis orang-orang sekitar, diolok-olok, tidak mau bekerjasama, dan lain sebagainya. Nah, yang paling sering dihadapi oleh PSG ini adalah ketidakmauan pihak kantin dan pedagang lain untuk bekerjasama. Meskipun pada akhirnya mereka tetap mau.

Memang benar nyatanya, membangun kesadaran peduli lingkungan bukanlah perkara yang mudah. Hal ini menyebabkan anak didiknya ada yang hampir putus asa.

Program PSG

PSG bekerja sama dengan kantin dan OSIS, untuk pakai barang-barang yang tak sekali pakai. Di kantin, apabila siswa membeli makanan harus pakai piring, minum pakai gelas, tidak boleh dibungkus, dan tidak boleh minum air kemasan. Mereka mempunyai tujuan bersama, menciptakan sekolah nol plastik.

PSG pun juga punya tiga tim, yaitu tim pangan lokal, tim sampah plastik, dan pupuk organik. Setiap setengah bulan, masing-masing tim PSG berkumpul membahas bidang masing-masing. Tim pangan lokal bicara mengenai makanan lokal dan pengolahan, tim sampah plastik berbicara mengenai bahan pengendalian plastik, dan tim pupuk organik berinovasi membuat pupuk dari tumpukan sampah organik.

Nantinya mereka saling berhubungan satu sama lain, misalnya ketika tim pangan lokal menanam pohon, akan dibantu pupuk oleh tim pupuk organik.

Mereka juga bekerja sama dengan para petani setempat, bertukar sampah pertanian seperti jerami. Kemudian mereka berikan pupuk kepada petani. Untuk pangan, mereka bekerja sama dengan para petani siwalan, dan pembuat gula merah. (MA)

Sumber : Mongabay.com

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar