Ternyata, Wisatawan Rentan Menjadi Korban

Ternyata, Wisatawan Rentan Menjadi Korban

Wim (49), turis asal Belgia yang menikah dengan WNI menceriutakan pengalamannya pada Tim EDT.

Saat terjadinya bencana alam, pasti yang rawan menjadi korban adalah para wisatawan. Lalu ada sebuah klub surfing yang selalu sigap dalam mengevakuasi para wisatawan, yaitu Batukaras Surf Club. Batukaras Surf Club ini adalah perkumpulan anak-anak muda penggiat aktivitas surfing (berselancar) yang tempatnya berada di kawasan wisata Pantai Batukaras. Klub ini dimulai sejak tahun 1990/1991 dan beranggotakan anak-anak muda dari kawasan Batukaras dan sekitarnya.

Asal kamu tahu nih Disasterizen. selain sebagai hobi berselancar mereka juga aktif dalam membantu para wisatawan untuk mengevakuasi diri jika terjadi bencana alam, lho!Ya, kita selalu sigap untuk mengevakuasi para turis,” ujar Deny ‘Kikuk’ (34), seorang member aktif Batukaras Surf Club.

Seperti yang kita tahu kalau wisatawan merupakan bagian dari masyarakat yang harus mendapatkan perhatian khusus. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara adalah salah satu potensi korban yang paling rapuh akan bencana alam.

Pangandaran sendiri adalah kabupaten yang berpisah dari Kabupaten Ciamis pada tahun 2012 ini merupakan magnet turis yang kuat. Seperti yang dilansir dari Pikiran-rakyat.com, tercatat ada kurang lebih 4,2 juta orang mengunjungi Pangandaran dalam kurun waktu tahun 2018 silam.

Baca juga : CARA UNIK JEPANG DALAM KESIAPSIAGAAN TSUNAMI

Walaupun seperti itu, himbauan sosialisasi maupun peta risiko bencana dalam berbagai macam bahasa tidak ditemukan di kawasan ini. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Wim (49), turis asal Belgia yang menikah dengan WNI dan sudah fasih berbahasa Indonesia.

Win juga menjadi saksi hidup tsunami pada tahun 2006, bercerita, “Ada perahu naik ke pohon. Ada jaring-jaring dan pasir tebal di jalan”.

Menurut penelurusan dari tim EDT (Ekspedisi Desa Tangguh Bencana Tsunami) 2019, akses menuju jalur evakuasi memang mudah dan jelas. Sayangnya himbauan atau peta risiko dan zona merah dalam berbagai macam bahasa memang belum terlihat.

Wim yang pada saat kejadian berusia 36 tahun ini berpesan, “Selalu waspada, tapi jangan panik. Itu kuncinya”. (RG)

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar