Petani Indonesia Miskin Dengan Nol Pembakaran

Petani Indonesia Miskin Dengan Nol Pembakaran

Sumber : Pinterest

Musim kemarau yang menghantui kita, menurut BMKG sampai saat ini masih terus berlanjut hingga akhir bulan Oktober 2019, Sob! Jadi jangan heran, jika kekeringan masih terus menghampiri kita sampai detik ini, seakan tak ingin berpisah.

Kalau ada musim kemarau yang berkepanjangan biasanya mengalami kebakaran hutan dan lahan kan? Dalam rangka mengatasi ancaman kebakaran dan asap yang bisa membahayakan kesehatan manusia tentunya, serta tak lupa pada lingkungan hidup. Pemerintah Indonesia ini sejak tahun 2014 sudah melarang penggunaan api dalam pembukaan lahan untuk pertanian. Kebijakan ini dikenal dengan istilah ‘nol-pembakaran’, yang berpotensi bisa merugikan petani skala kecil. Tetapi ternyata larangan dari pemerintah ini menyulitkan petani, lho!

Bagaimana ya larangan membakar mempengaruhi petani?

Jadi peneliti bernama Dede Rohardi, melakukan penelitian bagaimana nol pembakaran ini mempengaruhi petani bersama dengan tim dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) yang berkolaborasi bersama Balai Penelitian, Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Palembang, Sumatera Selatan, serta Universitas Lancang Kuning di Pekanbaru, Riau.  

Baca juga : TRADISI TAU TAA WANA DALAM PENGURANGAN RISIKO BENCANA

Ada 3 desa yang diteliti, yaitu Pelalawan, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir di Provinsi Riau dari Juli 2016 hingga April 2017 lalu. Ternyata menurut masyarakat, mereka membuka lahan secara manual dengan golok atau arit, kemudian membiarkan rumput dan sisa penebangan membusuk serta terurai. Ini akan memakan waktu lebih lama dari pembakaran satu hingga dua bulan dibandingkan dengan menggunakan api, serta lebih mahal pembiayaannya karena harus keluar biaya tenaga kerja.

Bukan cuma itu saja, ini bisa membawa hama dan penyakit dari tumpukan kayu, daun, dan rumput yang membusuk. Sehingga mengancam hasil panen para petani, Sob! Larangan dalam membakar untuk pembukaan lahan juga membatasi kemampuan petani dalam meningkatkan kesuburan tanah. Jadi tanpa abu hasil pembakaran itu, petani ini perlu menabur dolomite untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Bahkan dari hasil wawancara peneliti tersebut dengan narasumber masyarakat, mengatakan kalau sejumlah pemilik lahan menelantarkan pertanian mereka. Dari lahan-lahan yang terlantar itu bisa menyebabkan risiko api liar yang lebih tinggi nantinya di musim kemarau, karena meningkatkanya biomassa (energi) dari tanaman yang dapat terbakar.

Lantas harus bagaimana?

Memang betul, dengan adanya nol pembakaran efektif mengurangi kebakaran hutan dan lahan. Tetapi ini juga bisa merugikan para petani lokal lho Sobat Disasterizen! Maka dari itu, perlu adanya pembaharuan yang lebih menguntungkan para petani lokal.

Misalnya untuk para petani asli di wilayah non gambut seharusnya diizinkan untuk menerapkan pembakaran lahan terbatas. Kearifan lokal di masyarakat membuat pembakaran terbatas mungkin dilakukan dengan panduan dari petugas pemerintah lapangan.

Selain itu, kegiatan patrol juga tetap dibutuhkan untuk mengendalikan kelompok yang hanya mengejar keuntungan dengan membakar hutan tanpa memperhatikan keselamatan lingkungan. Untuk dari itu, penting untuk petugas memahami dan membedakan antara kelompok hanya ingin mencari untung dengan mereka yang betul-betul petani hidupnya bergantung pada kegiatan pertanian.

Kan kalau sudah begini semuanya akan sejahtera, petani tidak merasa dirugikan. Atau ada cara lain Sobat Disasterizen ingin sampaikan? Coba tulis dikolom komentar ya! (MA)

Sumber : TheConversation.com

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar