Beragam Kearifan Lokal Berbasis Mitigasi Bencana Penjuru Indonesia

Beragam Kearifan Lokal Berbasis Mitigasi Bencana Penjuru Indonesia

Indonesia memiliki keanekaragaman suku dan budaya. Di setiap sudut wilayah memiliki keunikan dan kearifan lokalnya sendiri. Kearifan lokal memuat ketentuan-ketentuan khusus yang meliputi nilai, norma, kepercayaan, etika, dan adat-istiadat. 

Pengetahuan lokal ini biasanya sudah dipraktikkan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Pengetahuan yang sifatnya tradisional ini digunakan masyarakat setempat untuk dapat beradaptasi dan bertahan hidup di lingkungan yang ada. Disamping itu, hal tersebut juga menjadi dasar dalam melakukan tindakan mitigasi bencana oleh masyarakat lokal. Misalnya saja kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya berbasis mitigasi bencana di Indonesia. 

Sebagai contoh masyarakat Bali yang memiliki kearifan lokal untuk menjaga kesucian dan keharmonisan alam bernama ‘Pemarisudha Bumi’. Selain itu masyarakat melaksanakan upacara yang diberi nama Tumpek Wariga, sebagai bentuk syukur dan pelestarian lingkungan. 

Tidak hanya Bali, di Sulawesi Tengah khususnya pada masyarakat Kulawi memiliki cara tersendiri dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis mitigasi bencana. Mereka membagi wilayahnya sebagai bentuk pengelolaan sumber daya hutan yang sampai sekarang masih dijalankan oleh masyarakat itu sendiri, yakni wana ngiki, wana, pahawa pongko, oma, balingkae, tomawu, dan pampa. 

Djati Marditno, Kepala Pusat Studi Bencana Alam Universitas Gadjah Mada dalam webinar yang bertajuk ‘Kearifan Lokal dalam Pembangunan Berkelanjutan berbasis PRB’ mengatakan, identifikasi nama setempat yang berbasis kearifan lokal menamainya sesuai dengan morfologi wilayah, proses geomorfik yang dominan, atau material penyusun utama suatu wilayah. 

Misalnya saja pada daerah Rambat, Geyer, Grobogan yang memiliki arti rayapan tanah. Nama tersebut dinamai karena adanya proses eksogen pada wilayah tersebut. Hal lainnya pada Kampung Tanah Runtuh di Palu Timur yang memiliki arti jalur Sesar Palu-Koro, akibat proses endogen. 

Lebih lanjut ia menjelaskan tentang kearifan lokal terkait dengan bencana tanah longsor, yaitu munculnya rekahan pada tanah yang mempunyai tingkat kemiringan tinggi, pohon miring atau bergeser, dan hujan deras selama kurang lebih 3 jam. 

Selain tanah longsor, ada juga kearifan lokal terkait dengan bencana banjir, meliputi udara yang lebih dingin dibandingkan dengan biasanya sebagai tanda banjir, debit air meningkat dan berwarna keruh, hujan deras dengan durasi yang cukup lama, plagrangan untuk mengamankan barang rumah tangga saat banjir, dan solidaritas sosia yang kuat antar warga masyarakat. 

“Pengetahuan lokal berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain, artinya secara prinsip sama, soal pembagian ruang, cara mereka memitigasi bencana. Misalnya saja gempa (dalam bentuk pembangunan rumah, menanam tanaman tertentu, dan lain sebagainya),” utas Trinirmalaningrum, Direktur Yayasan Skala Indonesia pada webinar ‘Kearifan Lokal dalam Pembangunan Berkelanjutan berbasis PRB’ pada 12 Oktober 2022. (MA) 

Dipost Oleh Mutia Allawiyah

Hello, Disasterizen! It's me Mutia. I'm a content writer at Siagabencana.com. I'll provide information about natural disaster preparedness. Nice to know you guys, cheers!

Tinggalkan Komentar